Belajar Membatik Cap, Warga Binaan Rutan Padang Panjang Siap Terjun ke Dapur Produksi
PADANG PANJANG, TerasnegariNews.com – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Padang Panjang terus memperkuat program pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Salah satu upaya terbaru adalah menggandeng sentra batik lokal, Canting Buana Kreatif, untuk memberikan pelatihan keterampilan membatik dengan teknik cap.
Kepala Rutan Kelas IIB Padang Panjang, Novri Abbas, S.H., M.H., turun langsung mendampingi warga binaan saat mengikuti pembelajaran membatik cap di workshop Canting Buana Kreatif, Selasa (01/09). Kehadiran pimpinan rutan tersebut menjadi bentuk komitmen untuk memastikan pembinaan berjalan optimal.
Dalam kolaborasi ini, Rutan Padang Panjang mempercayakan proses pembekalan kepada Owner Canting Buana Kreatif, Widdiyanti, M.Sn. Ia memberikan materi komprehensif tentang dasar-dasar teknik membatik cap kepada para peserta.
Pembelajaran tidak hanya berhenti pada teori di kelas. Warga binaan diajak langsung ke lokasi produksi untuk mempraktikkan setiap tahapan membatik cap, sehingga keterampilan yang didapat lebih aplikatif dan mudah dipahami.
Adapun materi yang diajarkan mencakup seluruh alur produksi, mulai dari proses mempersiapkan kain, teknik penggunaan canting cap, hingga tahapan pewarnaan kain. Semua proses dilakukan secara praktik agar peserta benar-benar menguasai keterampilan tersebut.
Kegiatan ini merupakan bagian integral dari program pembinaan kemandirian yang rutin dilaksanakan Rutan Kelas IIB Padang Panjang. Tujuannya, memberikan bekal keterampilan yang konkret dan bernilai guna bagi warga binaan ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.
Tak hanya sebatas pelatihan sesaat, Rutan Padang Panjang bersama Canting Buana Kreatif juga telah menyiapkan rencana tindak lanjut yang berkelanjutan. Ke depan, warga binaan ditargetkan dapat terlibat langsung dalam proses produksi.
“Rencana ke depan ikut bantu produksi pesanan yang di Canting,” ujar Novri Abbas.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu berkembang menjadi model pembinaan yang berkelanjutan. Dengan terlibat dalam produksi pesanan, warga binaan tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan membatik, tetapi juga mendapatkan pengalaman kerja secara nyata serta berpeluang memperoleh penghasilan dari hasil produksi batik.
Novri Abbas menyampaikan, keterampilan membatik dipilih sebagai salah satu fokus pembinaan karena memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya yang tinggi. Ia berharap keahlian ini dapat membuka peluang bagi warga binaan untuk mengembangkan usaha secara mandiri dan memperoleh penghasilan setelah menyelesaikan masa pidana.






