Udara kota Bukittinggi sore ini mulai terasa sejuk dan nyaman. Padahal siang tadi panasnya bukan main, matahari garang bikin ubun-ubun berdenyut sampai kepala pening. Untunglah menjelang pukul empat, angin dari Ngarai Sianok mulai naik, bawa hawa dingin yang menyegarkan badan.
Di pelataran Jam Gadang, pemandangan kota nampak sedikit berubah dari biasanya. Kalau dulu setiap sore pelataran ini penuh teriakan pedagang menawarkan minuman pelepas dahaga, sekarang lebih lengang. Dulu pedagang kerupuk kuah campur mie hangat selalu jadi rebutan. Di sebelahnya, lapak pernak-pernik imitasi, bros, kalung, gantungan kunci Jam Gadang mini. Kalau hari libur pelataran ini sangat ramai oleh pengunjung.
Tapi sekarang pemandangan itu sudah tak kelihatan lagi sejak para pedagang cenderamata dan pernak-pernik itu dipindahkan pemerintah kota ke lantai bawah Pusat Pertokoan Pasar Ateh. Alasannya demi menata wajah kota. Biar pelataran steril, dan bersih.
Dengan pemindahan pedagang ke dalam, pemerintah berharap pertokoan di bawah jadi ramai. Pembeli yang niat cari oleh-oleh pasti akan turun, masuk ke pusat pertokoan, dan sekalian belanja barang lain yang dibutuhkan. Jadi tidak cuma lewat di pelataran saja, tapi benar-benar masuk ke toko.
Bagi pedagang yang biasa kepanasan di luar, berjualan di dalam tentu lebih nyaman. Tidak takut hujan badai, tidak was-was dagangan kehujanan. Teduh dan aman. Meski begitu, suasana angin sore Jam Gadang yang bebas memang tak bisa digantikan oleh tembok dan atap toko.
Pemerintah Kota Bukittinggi memang serius ingin menata kota ini. Tujuannya jelas: menjadikan Bukittinggi indah dan nyaman dikunjungi wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Karena Jam Gadang ini ikon, wajah Sumbar. Agar kelihatan lebih indah, semua toko di deretan Pasar Ateh juga dicat ulang warna kuning seragam, khas Minang.
Yang paling kena dampaknya sekarang justru para empu toko di deretan bawah jalan, mereka harus sabar menghadapi proyek di depan tokonya. Sebab di sana sedang ada galian panjang untuk saluran dan pondasi tangga akses baru. Debu galian halus sering kebawa angin sore, masuk dan nempel di kaca etalase, di pajangan kacamata, di kain sulaman. Lap berkali-kali pun kadang kalah sama debunya.
Bukittinggi – Rabu 3 Juni 2026, galian di depan toko masih menganga. Tumpukan beton bekas bongkaran trotoar ditata rapi di pinggir. Seorang tukang pakai topi caping masih membungkuk di dalam lubang, cangkul dan ember di sampingnya. Bau tanah basah campur semen tercium sampai ke pelataran.
Galian ini nantinya disiapkan untuk tangga akses langsung. Tujuannya agar pengunjung dari pelataran bisa turun ke deretan toko tanpa harus memutar lewat samping pasar. Harapannya, kalau tangga sudah jadi, pembeli makin mudah masuk, toko makin laris, dan pelataran makin terhubung dengan pusat pertokoan.

Menjelang Maghrib, azan dari Masjid Raya berkumandang. Lampu-lampu toko dan lampu taman di badan Jam Gadang serentak hidup, kuning keemasan. Jam Gadang tetap berdetak, jadi saksi kota yang terus berubah.
Penulis : Eri Piliang
Editor : Dodi Afriandi






