Bukittinggi, 26 Mei 2026
Angin malam berembus pelan melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Di saat itulah bisikan jahat mulai masuk ke dalam pikirannya. “Ambil saja sedikit. Tidak akan ada yang tahu.”
Hatinya bergumam membenarkan. “Toh emas ini sudah lama dititipkan. Pemiliknya sibuk dengan urusannya sendiri. Mengambil sedikit pasti tidak akan terasa.”
Bisikan itu terus merayu hingga akhirnya ia membuka lemari. Tangannya gemetar, tetapi ia tetap mengambil beberapa keping emas. Rasa bersalah ditepis dengan alasan bahwa ia hanya meminjam.
Setan yang menggoda pun merasa senang. Di benak laki-laki itu sudah terbayang uang yang akan didapat jika emas itu dijual. Rasa puas sesaat mengalahkan nurani yang masih bersuara pelan.
Hari berganti hari, bulan berganti tahun. Ia menjalani hidup seolah tidak terjadi apa-apa. Beban di hatinya perlahan menghilang, digantikan rasa aman yang semu. Ia mulai lupa bahwa yang ada di tangannya adalah titipan, bukan miliknya pribadi.
Rupanya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Pada suatu hari, pemilik emas datang untuk mengambil kembali titipannya. Laki-laki paruh baya itu terperanjat, seolah baru terbangun dari mimpi yang sangat indah selama ini.
Keringat dingin pun membasahi dahinya. Ia kelabakan, gelisah, dan tidak tahu harus menjawab apa. Kata-kata tersangkut di tenggorokan, malu dan takut bercampur menjadi satu.
Bisikan setan kembali muncul. “Katakan saja emas itu dimakan tikus. Atau katakan kecoak yang menggerogotinya. Siapa yang akan percaya, tetapi siapa pula yang bisa membuktikannya?”
Ia hampir mengucapkan alasan itu. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa dusta hanya akan menambah satu dosa lagi di atas dosa yang sudah ia buat. Apabila malam telah tiba, mata pun sungguh sulit untuk terpejamkan.
Setan memang pandai. Dengan berbagai cara ia membuat manusia lupa, membuat yang haram terasa ringan, membuat yang salah tampak masuk akal. Dan ketika manusia terjerumus, setan bersorak dalam kemenangan bersama rajanya.
Kini laki-laki itu harus menghadapi kenyataan pahit. Ia akan merasakan “hotel” yang tak ada AC-nya, tak ada musik, tak ada kasur empuk dan selimut tebal. Sebuah tempat yang dingin, sepi, dan menjadi akibat dari pilihan yang ia ambil sendiri. Rasa sesal pun sudah terlambat untuk diratapi.
Begitulah kisah tentang titipan yang disalahgunakan. Sebuah pengingat bagi kita, bahwa godaan setan datang selalu pada saat hati lengah, dan amanah adalah sesuatu yang sangat berat untuk ditanggung di dunia maupun di akhirat kelak
Penulis : Eri Piliang
Editor : Dodi Afriandi






