Hari Raya Idul Adha telah tiba. Hari besar itu datang membawa suasana sakral bagi seluruh umat Islam di penjuru negeri.
Dari balik jeruji besi, sayup-sayup terdengar suara takbir dari kejauhan
Allah hu Akbar, Allah hu Akbar, Allah hu Akbar, Allah hu Akbar wa bilah Ilham,
Bukittinggi – 27 – mei – 2026-
Dari berbagai masjid dan musholla, suara takbir berkumandang tanpa henti. Gema “Allahu Akbar” menyatu dengan udara pagi, menembus hati siapa saja yang mendengarnya.
Suara takbir itu saling bersahutan, membangun suasana khusyuk. Hati menjadi terenyuh, lisan memuji kebesaran Allah, tubuh bersujud dalam syukur yang dalam.
Di luar sana, orang-orang saling bermaafan. Saudara, kerabat, sanak famili berpelukan, meleburkan salah dan khilaf yang pernah ada.
Namun di ujung sebuah bangunan yang berdiri kokoh, seorang laki-laki duduk termenung. Wajahnya menunduk, rautnya penuh sesal.
Di dadanya terasa getaran aneh. Itu rindu. Rindu untuk memeluk, rindu untuk melepaskan beban, rindu untuk menangis sepuasnya tanpa ditahan.
Penjara telah memberinya pelajaran mahal. Akibat perbuatan yang pernah ia lakukan, kini ia harus membayar dengan waktu dan kebebasan, yang cukup lama untuk bisa kembali bersama keluarga.
Rasa sesal itu datang setiap saat. Ia menuntut, mengingatkan setiap khilaf yang pernah kita perbuat, seolah waktu tidak pernah memberi jeda untuk lupa akan salah dan dosa.
Entah bagaimana ia bisa terperosok ke jurang kenistaan. Satu kesalahan menyeret kesalahan lain, hingga ia harus menginap di balik jeruji besi untuk jangka waktu yang cukup lama.
Kepergiannya telah memisahkan kasih sayang dengan keluarga, teman, dan sahabat. Paling berat, ia harus berpisah dengan buah hati tercinta.
Di rumah, mungkin anaknya sering bertanya pada sang ibu, “Kapan bapak pulang?” Pertanyaan polos itu menjadi beban berat yang tak bisa ia jawab langsung.
Setiap waktu, setiap saat, anak itu merindukan pelukan seorang ayah. Sementara sang ayah, di kamar prodeo yang dingin, hanya bisa menahan rindu dengan air mata
Laki-laki itu menangis tanpa peduli tatapan tahanan lain. Di hari raya yang mengajarkan keikhlasan dan pengorbanan ini, ia berharap satu hal: agar Allah memberinya kesempatan kedua, agar ia bisa pulang, meminta maaf, dan memeluk keluarganya kembali.
Melalui tangisan, serta penyesalan, dan harapan untuk mendapat kan kembali kata maaf dari keluarga serta kesempatan kembali untuk berubah dengan perilaku yang lebih baik lagi.
Laki-laki tersebut jatuh tersungkur ke lantai, bersujud, tundukkan kepala, air mata masih menetes jatuh ke lantai nan dingin, seakan ikut merasakan derita laki-laki yang berwajah kusam.
Disudut ruangan yang pengap , beberapa tahanan, ada yang terdiam duduk, sambil sembunyi kan air mata kesedihan, menghapus dengan telapak tangan yang kelam.
Penulis : Eri Piliang
Editor : Dodi Afriandi






