Di sebuah rumah kayu tua yang berdiri sendiri di ujung desa, hiduplah seorang wanita tua. Rambutnya telah memutih, wajahnya dipenuhi keriput, tapi matanya masih sama, penuh harap. Setiap malam ia duduk di beranda, memegang lentera kecil yang cahayanya tak pernah padam.
Bukittinggi – 23 – mei – 2026 –
Hujan turun pelan, membasahi bunga dan daun di halamannya. Ia menatap jalanan sepi di depan rumah, menanti langkah yang sudah dua dekade tak terdengar. Orang-orang bilang ia bodoh, menunggu seseorang yang mungkin takkan kembali. Tapi ia hanya tersenyum pelan. Bagi hatinya, kesetiaan bukan tentang waktu. Ia menanti dalam ikhlas, karena cinta yang ia simpan tak kan pernah menua sampai akhir hayat nanti.
Malam itu akhirnya tiba.
Setelah dua dekade menanti di balik doa dan rindu, pintu gerbang lapas terbuka pelan. Sang laki-laki melangkah keluar, langkahnya ragu tapi matanya tak salah mengenali sosok yang duduk dengan lentera tua di tangannya. Tanpa ada kata, mereka berlari kecil dan berpelukan erat, seolah waktu dua puluh tahun itu runtuh dalam satu tarikan napas.
Di tengah pelukan itu, wanita tua itu mengangkat wajahnya. Matanya berkaca – kaca, tapi bibirnya tersenyum tenang. Ia berbisik pelan, satu kalimat yang ia jaga sepanjang hidupnya, Hatiku tak akan pernah aku berikan kepada lelaki lain, Sang laki-laki hanya bisa mengangguk, menggenggam tangannya erat. Tatapan mereka bertemu, tatapan yang selama ini hanya hidup dalam mimpi dan surat-surat yang tak pernah sampai pada lelaki pujaan.
Mereka berjalan pulang bersama, bergandengan tangan, mengikuti jalan setapak menuju senja. Langit perlahan berubah jingga, lalu merayap gelap menjadi malam yang indah. Dari masjid seberang jalan, suara azan Magrib berkumandang, seolah menjadi saksi atas janji yang akhirnya terpenuhi.
Para penjaga lapas yang berdiri di kejauhan hanya bisa terdiam, menyaksikan pemandangan yang jarang mereka lihat, cinta yang tak pudar meski terkurung jeruji besi. Salah satu dari mereka mengusap sudut matanya diam-diam.
Karena di saat itu, semua orang mengerti, kesetiaan sejati memang ada, dan ia baru saja kembali pulang.
Malam itu mereka tidak banyak bicara. Cukup dengan genggaman tangan yang tak mau lepas, seolah takut jika dilepaskan, waktu akan memisahkan mereka lagi. Di rumah kayu tua itu, lentera yang dulu hanya menemani kesepian kini menerangi dua hati yang akhirnya pulang. Mereka duduk di beranda, mendengarkan jangkrik dan suara azan berganti dengan suara tawa kecil yang sudah lama hilang.
Hari-hari berikutnya berlalu lebih lambat, tapi kali ini bukan karena rindu yang menyiksa. Melainkan karena setiap detik terasa berharga. Sang laki-laki membantu memperbaiki atap rumah yang bocor, menanam kembali bunga di halaman yang dulu hanya disiram air mata. Sang wanita mengajarkannya lagi cara menikmati kopi panas di pagi hari, seperti yang mereka lakukan sebelum semuanya terpisahkan oleh waktu.
Desa itu mulai berbisik tentang mereka. Bukan dengan cemooh, tapi dengan takjub. “Lihatlah,” kata seorang tetangga, “cinta yang tak dimakan waktu.” Anak-anak kecil sering berhenti di depan pagar mereka, mendengarkan cerita tentang kesetiaan yang menunggu dua puluh tahun tanpa lelah. Dan mereka selalu tersenyum, seolah ingin berkata, jika cinta itu nyata, ia akan kembali ke pangkuan.
Kini, setiap kali senja datang, mereka duduk bersama di beranda. Lentera tua itu masih menyala, tapi bukan untuk menunggu. Ia menyala untuk mengingatkan bahwa ada cinta yang pernah diuji oleh jeruji besi, dan menang. Dan di bawah langit yang sama, mereka tahu meski nanti malam tiba untuk selamanya, hati mereka takkan pernah terpisah kan lagi.
Malam ini , bulan dan bintang saling menerangi bumi , menyinari dedaunan dan bunga- bunga yang bermekaran dihalaman , mereka duduk berdua di beranda rumah, memandang awan yang saling berkejaran, sepasang kupu-kupu hinggap di dahan ranting Cemara, saling menatap, seakan ikut berbahagia di malam nan indah berhiaskan cahaya.
Penulis : Eri Piliang
Editor : Dodi Afriandi






