Darah Pengusaha dari Ayah, Politik dari Ibu: Dhani Hariyona dan Jalan Politik Keluarga di Bukittinggi
BUKITTINGGI, TerasnagariNews.com – Pesan untuk tidak takut memulai, berani berproses, dan konsisten menjaga relasi menjadi benang merah yang dibawa Muhammad Dhani Hariyona saat tampil dalam dialog interaktif “Yang Muda yang Berprestasi” di RRI Bukittinggi, Kamis (24/9/2026).
Dialog yang dipandu penyiar Ariani Kusumawati itu berlangsung selama satu jam, pukul 09.00-10.00 WIB, dalam program Minang Kreatif Pro 4 RRI Bukittinggi. Di hadapan publik Bukittinggi, Dhani yang dikenal sebagai Ketua HIPMI Sumatera Barat membedah secara jujur persilangan dua darah yang membentuknya: etos pengusaha dari sang ayah dan naluri politik dari sang ibu.
Lahir dari keluarga yang memang membangun politik di dalam rumah, Dhani tak menampik bahwa pilihan hidupnya hari ini adalah kristalisasi dari didikan keluarga. Ayahnya adalah seorang pengusaha, sementara ibunya adalah politisi. Dari kombinasi itulah ia belajar dua hal sekaligus: cara menghitung risiko bisnis dan cara membaca peta kekuasaan untuk melayani masyarakat.
Jejak usahanya sendiri dimulai tak lama setelah ia menyelesaikan program magang di luar negeri. Atas dorongan orang tuanya, ia memilih memulai dari bawah melalui usaha percetakan. Sebuah titik awal yang tidak selalu mulus. “Dalam perjalanan usaha, kita harus siap dengan untung dan rugi. Itu bagian dari proses,” ujar Dhani, menegaskan mentalitas yang ia warisi dari ayahnya sebagai pengusaha.
Pengalaman magang di luar negeri itu pula yang membentuk budaya kerjanya. Dhani melihat ada perbedaan mencolok antara disiplin dan budaya kerja di negara tempat ia magang dengan di Indonesia. Perbedaan itu tidak ia tolak, melainkan ia adopsi dan sesuaikan, termasuk saat ia melebarkan usaha dari percetakan ke sektor properti, lalu ke sektor kuliner dan perhotelan, salah satunya yang kini ia kelola di Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman.
Jiwa organisasinya ditempa sejak 2018 melalui Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Ia menjadi saksi perubahan HIPMI yang menurutnya kini jauh lebih terbuka dan inklusif, tidak lagi eksklusif seperti anggapan lama. Dari ruang itulah, darah politik dari ibunya mulai menemukan salurannya yang lebih formal.
Jika bisnis adalah warisan ayah, maka politik adalah panggilan darah ibu yang selama ini ia lihat dari dekat. Dhani secara terbuka menyebut terjun ke politik karena dorongan orang tua. Namun ia kemudian menemukan bahwa politik justru memberi panggung pengabdian yang lebih luas daripada sekadar bisnis. “Dengan masuk ke dunia politik, kita semakin banyak ingin berbuat. Kita juga ingin mengajak anak-anak muda untuk ikut terlibat,” tuturnya.
Langkah politik itu kini terstruktur. Selain dipercaya sebagai Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Sumatera Barat, Dhani baru saja mendapat mandat besar sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Bukittinggi melalui Musyawarah Daerah (Musda) XI pada 6 September 2026 lalu. Bagi Dhani, ini bukan soal jabatan, melainkan soal proses kaderisasi keluarga yang akhirnya bermuara pada pengabdian.
Di sesi politik itulah ia paling tajam berpesan kepada anak muda. Ia menilai kekritisan anak muda adalah modal politik, tetapi harus dibarengi pemahaman sistem. Pendidikan politik, kata dia, tidak harus dari bangku formal, melainkan dari proses panjang di organisasi dan kehidupan sosial. “Untuk mendapatkan sesuatu itu melalui proses yang panjang. Anak-anak muda harus tahu itu. Kita berharap mereka menjalani proses agar hasilnya maksimal. Selagi masih muda dan ada kesempatan, hajarlah terus,” tegasnya.
Prinsip yang ia pegang sebagai pengusaha ia bawa ke politik: kesejahteraan orang di dalamnya lebih penting dari sekadar pertumbuhan. Ia memegang teguh prinsip membangun dan menjaga relasi. “Bangun relasi dan jaga relasi. Ketika kita jatuh, relasi itulah yang bisa membantu kita bangkit dari kegagalan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan Gen Z pelaku UMKM agar tidak cepat puas dan tidak sombong, serta berinvestasi pada pengalaman.
Di penghujung dialog, pesan khususnya untuk anak muda Bukittinggi sangat politis: berani vokal pada tempatnya. “Jadilah orang yang berani. Apa yang dipikirkan, sampaikan. Vokal lah pada tempatnya, banyak bertanya, jangan ragu dan jangan malu,” pesannya.
Perjalanan Dhani dari Lubuk Sikaping hingga pucuk pimpinan Golkar Bukittinggi menegaskan satu hal: ketika darah pengusaha dari ayah bertemu darah politik dari ibu dalam satu keluarga, yang lahir bukan hanya pengusaha atau politisi, melainkan seorang anak muda yang paham bahwa bisnis membangun ekonomi, tetapi politiklah yang membangun jalan pengabdian yang lebih luas.






