BUKITTINGGI, TerasnagariNews.com – Anggota DPRD Kota Bukittinggi Dapil Kecamatan Guguak Panjang, H. Arnis Malin Palimo, S.Pd, menggelar kegiatan reses masa sidang III tahun 2025/2026 pada Kamis (6/8/2026). Kegiatan penjaringan aspirasi masyarakat tersebut dipusatkan di Mushala Nur Rabbani, Kelurahan Tarok Dipo, dan dihadiri langsung oleh Camat Guguak Panjang, H. Heru Tri Astanawa, S.Pd.I, MM, Tuanku Nan Satida, beserta tokoh masyarakat setempat.
Pemilihan rumah ibadah sebagai lokasi reses bukan tanpa alasan. Menurut Arnis, suasana mushala yang tenang diharapkan mampu menciptakan ruang dialog yang lebih terbuka dan khidmat, sehingga warga Tarok Dipo dapat menyampaikan aspirasi secara jujur dan mendalam. Fokus utama yang mengemuka dalam forum tersebut adalah keresahan warga terkait kenyamanan dan ketertiban lingkungan.
Dalam sesi dialog, warga secara lugas menyampaikan aspirasi mendesak yang berkaitan dengan kualitas hidup komunitas sehari-hari. Keluhan utama didominasi oleh persoalan sosial, mulai dari maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja, problem kenakalan remaja, hingga menjamurnya rumah kos dan kontrakan yang dinilai luput dari pengawasan dan berpotensi mengganggu ketertiban.
Menanggapi hal tersebut, warga secara khusus meminta agar pihak kelurahan meningkatkan pemantauan terhadap kawasan kos dan kontrakan. Mereka juga mendorong penguatan peran pemuda, imam masjid, dan tokoh masyarakat untuk aktif memantau dan membina lingkungan. Langkah kolaboratif antara warga dan aparat setempat dinilai menjadi kunci untuk menjaga ketertiban.
Isu yang cukup menyita perhatian dalam reses kali ini adalah soal LGBT yang muncul sebagai kegelisahan publik. Arnis mengungkapkan bahwa isu tersebut sebenarnya telah diusulkan untuk masuk ke dalam pembahasan peraturan daerah (perda) Kota Bukittinggi, namun hingga kini masih menghadapi banyak liku dan tantangan dalam proses proseduralnya.
Sebagai respons sosial, pembinaan agama dan penguatan nilai keimanan menjadi solusi yang ditekankan dalam forum tersebut. Ulama dan tokoh agama diminta untuk memperkuat dakwah di masjid, termasuk menghidupkan kembali kegiatan pengajian maghrib dan subuh sebagai upaya merangkul dan membina generasi muda agar tidak terjerumus pada pergaulan menyimpang.
Di luar isu ketertiban, reses juga memaparkan capaian program yang telah berjalan. Salah satunya adalah program pelatihan UMKM untuk ibu-ibu di wilayah Guguak Panjang yang telah sampai pada tahap penutupan dan dinilai berhasil memberdayakan ekonomi keluarga. Program ini akan menjadi prioritas berkelanjutan di tengah keterbatasan anggaran.
Terkait bantuan sosial, Arnis menyebut adanya rencana bantuan untuk lanjut usia (lansia) dan keluarga miskin di sekitar wilayah. Dalam paparannya, dialokasikan anggaran dengan target penerima sekitar 100 orang dengan nilai yang tercatat sebesar 600, meski satuan anggarannya tidak disebutkan secara spesifik. Dalam pembahasan, juga mengemuka angka sekitar 60 lansia sebagai kelompok penerima yang relevan dan membutuhkan perhatian segera.
Arnis mengakui, dengan keterbatasan anggaran daerah, program kerja dewan saat ini diprioritaskan pada tiga pilar utama, yakni pembinaan umat terutama remaja, penguatan kegiatan keagamaan di masjid, dan pemberdayaan ekonomi melalui UMKM. Ke depan, fokus juga akan diarahkan untuk memperkuat fasilitas masjid dan mushala sebagai pusat ibadah dan pengajian (usra) dengan mengajak partisipasi aktif masyarakat.
Semua pihak yang hadir sepakat bahwa realisasi aspirasi tersebut membutuhkan kerja sama solid antara warga, tokoh agama, pemuda, dan kelurahan. Dengan pembinaan yang konsisten, pengelolaan anggaran yang terarah dan tepat sasaran, serta proses regulasi perda yang terus dikawal secara hati-hati, berbagai problematika sosial di Tarok Dipo diharapkan dapat diminimalkan dan solusi yang jelas dari pemangku kebijakan dapat segera terwujud.







