Sandal Warga Binaan Lapas Bukittinggi Tembus Pasar Hotel Bintang 5, Kalapas: Bukti Pembinaan Tak Sebatas Teori
BUKITTINGGI –TerasnagariNews.com Produk sandal hasil karya warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bukittinggi kini berhasil naik level. Tak hanya sekadar menjadi pajangan di ruang pameran, sandal buatan para narapidana itu sukses menembus pasar dan resmi dipakai untuk memenuhi kebutuhan sejumlah perhotelan berbintang di Kota Bukittinggi.
Capaian ini mendapat apresiasi langsung dari Kepala Lapas Kelas IIA Bukittinggi, Nanang Rukmana. Ia menyebut keberhasilan tersebut sebagai bukti nyata bahwa program pembinaan keterampilan di dalam lapas bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan benar-benar menghasilkan karya yang punya nilai jual.
Apresiasi itu disampaikan Nanang saat melakukan peninjauan ke bengkel produksi dan ruang pameran hasil karya warga binaan, Jumat, 26 Juni 2026. Di sana, ia menyaksikan langsung proses pembuatan sandal, mulai dari perakitan hingga pengemasan. Ia juga melihat stok sandal yang sudah tertata rapi dan siap didistribusikan ke para pemesan dari sektor perhotelan.
“Kami sangat bangga dan mengapresiasi kerja keras seluruh warga binaan serta pembina yang mendampingi. Hasil karya ini tidak lagi hanya dipajang, tapi sudah bisa menjawab kebutuhan pasar, khususnya kebutuhan sandal untuk tamu di hotel-hotel berbintang se-Bukittinggi,” ujar Nanang di sela kunjungannya.
Menurut Nanang, diterimanya produk warga binaan oleh sektor perhotelan menjadi validasi penting. Hal itu menandakan bahwa kualitas dan standar sandal yang dihasilkan sudah setara dengan produk komersial yang beredar di pasaran. Ini sekaligus menjadi indikator bahwa program pembinaan di Lapas Bukittinggi berjalan efektif dan mampu menciptakan produk bernilai ekonomi tinggi.
Keberhasilan menembus segmen perhotelan ini, lanjut Nanang, menjadi pemicu bagi pihak lapas untuk terus mengembangkan program pemberdayaan ekonomi warga binaan. Mereka dibekali keahlian yang dapat diandalkan sebagai bekal hidup mandiri setelah menyelesaikan masa pidana. Dengan keterampilan dan jejaring pasar yang sudah terbentuk, risiko residivisme atau pengulangan tindak pidana diharapkan bisa ditekan.
“Ketika karyanya bisa diterima pasar, rasa percaya diri mereka tumbuh. Mereka jadi sadar bahwa mereka mampu berkontribusi positif melalui usaha yang halal dan berkualitas,” tegas Nanang. Ia menekankan, program ini merupakan bagian dari upaya membentuk narapidana agar siap kembali ke masyarakat sebagai individu yang produktif dan bermanfaat.
Ke depan, Lapas Kelas IIA Bukittinggi berencana memperluas jangkauan pemasaran hasil karya warga binaan. Tak hanya sandal, ragam produk lain yang dihasilkan di bengkel kerja lapas juga akan ditingkatkan kualitasnya untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Nanang berharap dukungan dari pelaku usaha, khususnya pengelola hotel di Bukittinggi, terus terjalin. Sinergi ini penting demi keberlanjutan usaha warga binaan, baik selama masa pembinaan maupun setelah mereka bebas.
Penulis : Arya Ibnu Sabir
Editor : Dodi Afriandi






