TerasnagariNews.Com | Di tengah kekayaan adat Minangkabau, Minangkabau menyimpan banyak kisah unik yang diwariskan turun-temurun. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah cerita tentang Suku Jambak atau Kutianyie, sebuah suku yang diyakini memiliki jejak sejarah berbeda dibanding kebanyakan suku lain di ranah Minang.
Di sejumlah daerah seperti Batusangkar, Solok, hingga wilayah Lima Puluh Kota, masyarakat mengenal nama Suku Kutianyie sebagai bagian yang masih satu garis keturunan dengan Suku Jambak. Dalam tradisi lisan masyarakat, suku ini disebut memiliki hubungan sejarah dengan bangsa Campa yang datang dari wilayah Tiongkok hingga Mongolia.
Jejak Campa dan Kisah Hera Mong Campa
Menurut cerita turun-temurun, nenek moyang Suku Jambak berasal dari kelompok pengembara Campa yang datang ke wilayah Koto Tuo pada masa lampau. Mereka dipimpin oleh seorang ratu perempuan bernama Hera Mong Campa, sosok yang dalam beberapa riwayat dikaitkan dengan Mongolia.
Kehadiran kelompok Campa ini diyakini lebih dahulu sebelum perpindahan besar kelompok Koto Piliang ke wilayah Luhak Lima Puluh Koto. Dalam perjalanan waktu, nama “Campa” perlahan berubah penyebutan menjadi “Jambak”.
Jejak keberadaan mereka masih dapat dilihat dari banyaknya daerah bernama “Kampuang Jambak” di Sumatera Barat. Salah satu yang cukup dikenal berada di wilayah Suliki dan Koto Tinggi.
Fenomena “Hujan Wajib” Saat Pesta Pernikahan
Di balik kisah asal-usulnya, Suku Jambak juga terkenal dengan fenomena yang hingga kini masih sering diperbincangkan masyarakat: hujan yang hampir selalu turun saat pesta pernikahan keluarga Jambak berlangsung.
Banyak warga percaya bahwa meskipun cuaca sebelumnya panas terik, hujan deras kerap turun tepat ketika acara dimulai. Bahkan, sebagian keluarga bersuku Jambak mengaku fenomena itu terjadi berulang kali dalam berbagai hajatan keluarga mereka.
Legenda mengenai “hujan pesta” ini memiliki dua versi yang populer di masyarakat.
Versi pertama berkaitan dengan sumpah Hera Mong Campa. Dikisahkan, pada masa kemarau panjang, sang ratu memohon kepada Tuhan agar hujan turun tepat ketika masyarakat membutuhkan air untuk pesta adat. Permohonan itu dipercaya terus melekat kepada keturunannya hingga sekarang.
Sementara versi kedua lebih bernuansa pesan moral. Konon, pada sebuah pesta pernikahan, seorang kakek tua berpakaian lusuh datang meminta tempat berteduh. Namun ia justru dihina dan diusir karena dianggap mengganggu pesta. Sang kakek lalu berdoa agar hujan turun membasahi mereka yang sombong. Tak lama kemudian langit berubah gelap dan hujan badai mengguyur pesta tersebut. Sejak saat itu, keturunan mereka diyakini selalu didatangi hujan saat mengadakan pesta.
Antara Folklor, Adat, dan Perspektif Islam
Secara ilmiah, tentu sulit membuktikan hubungan antara suatu suku dengan fenomena cuaca tertentu. Namun dalam budaya Minangkabau, cerita semacam ini hidup sebagai bagian dari folklor dan identitas adat masyarakat.
Bagi sebagian orang Minang, tanah Minangkabau dikenal sebagai “Tanah Pasumpahan”, tempat sumpah dan doa leluhur dipercaya memiliki makna simbolik yang kuat dalam kehidupan sosial masyarakat.
Di sisi lain, dalam pandangan Islam, hujan tidak dipandang sebagai kutukan. Hujan justru dianggap sebagai rahmat dan berkah dari Allah SWT. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa hujan adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada makhluk-Nya setelah masa kesulitan dan kekeringan.
Karena itu, sebagian masyarakat kini memaknai hujan dalam pesta Suku Jambak bukan lagi sebagai pertanda buruk, melainkan simbol keberkahan, pembersihan, dan doa yang baik bagi keluarga yang sedang berbahagia.
Warisan Budaya yang Tetap Hidup
Terlepas dari benar atau tidaknya legenda tersebut secara historis, kisah Suku Jambak/Kutianyie tetap menjadi bagian menarik dari kekayaan budaya Minangkabau. Cerita tentang hujan pesta, jejak Campa, dan sumpah leluhur terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas adat yang unik.
Di era modern, cerita ini bukan lagi sekadar mitos, tetapi juga menjadi pengingat bahwa tradisi lisan dan folklor adalah warisan budaya yang memperkaya jati diri masyarakat Indonesia.
Penulis : Angah Al-Syroekamy
Editor : Alex Kardion
Sumber Berita: Wikipedia






