142 Penerbang Padati Langit Gunung Bungsu, Payakumbuh Matangkan Formasi Menuju PORPROV Sumbar 2026
PAYAKUMBUH, TerasnagariNews.com – Langit di kawasan Taeh Bukik, Gunung Bungsu, Payakumbuh, dipadati parasut warna-warni pada Minggu, 30 Agustus 2026. Bungsu Aerosport Club (BAC) menjadi tuan rumah Latihan Bersama Paralayang Aerosport se-Sumatera Barat yang digelar sebagai ajang latihan bersama dan penguatan kebersamaan menjelang Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) Sumatera Barat 2026. Kegiatan ini dirancang untuk menyamakan pola terbang, menyatukan semangat atlet, dan mempererat silaturahim antar kabupaten/kota.
Latihan bersama ini merupakan bagian krusial dari rangkaian persiapan menuju PORPROV Sumbar 2026 yang direncanakan akan dibuka secara resmi pada 2 Oktober 2026 di Kota Solok. Tujuan utamanya adalah mempersiapkan atlet secara teknis dan mental melalui sinkronisasi teknik, penyamaan formasi, dan kesiapan bertanding. Hasil dari latihan bersama ini nantinya akan menjadi bahan evaluasi dan pembinaan lanjutan untuk meningkatkan performa menuju target nasional.
Dari sisi peserta, antusiasme tercatat tinggi. Panitia mencatat 142 orang peserta terdaftar dari berbagai daerah, di antaranya Kabupaten 50 Kota, Kota Payakumbuh, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman Barat, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kota Solok, Kota Sawahlunto, dan Dharmasraya. Beberapa daerah lain absen bukan karena kesengajaan, melainkan karena faktor jarak yang terlalu jauh. Dari total 142 orang tersebut, tidak semua diperkirakan akan turun di PORPROV karena sebagian masih berstatus pemula dan baru melakukan loncat perdana. Khusus untuk cabang Gantole, tercatat 8 kabupaten/kota yang mengirimkan perwakilannya.
Secara teknis, latihan ini mempertandingkan tiga matra aerosport dengan karakteristik berbeda. Layang (paralayang) ditandai dengan parasut yang ujungnya agak lancip, sementara Gantole mirip layangan namun versi bermotor/bertiang dan diawaki pilot berlisensi. Adapun Para Motor atau Paramotor mirip parasut namun dilengkapi engine di bagian belakang dengan variasi mesin PIC1, PIC2, dan Rotax (disebut Rorobin). Untuk Layang terdapat 5 kategori lomba yakni senior putra, senior putri, junior putra, junior putri, dan beregu (tim). Para motor berkompetisi pada nomor ketepatan mendarat, formasi, dan navigasi, sedangkan Gantole memiliki 2 kategori yaitu ketepatan mendarat dan navigasi yang memakai titik koordinat dari Dewan Juri. Selain itu ada nomor aksi berupa free flight atau long-distance yang sangat bergantung pada kondisi cuaca, termal, dan akselerasi udara.
Dari sisi fasilitas dan logistik, tantangan tidak kecil. Tercatat ada 29 venue latihan untuk layang, gantole, dan para motor, namun tidak seluruhnya efektif karena kendala lokasi dan faktor lain. Kompleksitas logistik terlihat dari contoh rute take-off di Puncak Lawang dengan landing di pinggir Danau Maninjau yang memerlukan evakuasi menggunakan kendaraan besar untuk mengembalikan peralatan ke titik take-off. Dari sisi biaya, peralatan tergolong mahal. Paket lengkap parasut plus engine plus harness disebut mencapai sekitar Rp 160.000.000, sedangkan pembelian set terbaru berupa harness dan parasut terakhir sekitar Rp 86.000.000. Bahkan untuk parasut saja minimal sekitar Rp 40 juta tanpa harness dan cadangan, dan paket lengkapnya Rp 60-70 juta. Keterbatasan ini membuat atlet harus berbagi parasut milik klub sehingga cepat rusak.
Aspek keamanan menjadi prioritas utama. Penanggung jawab teknis lapangan adalah Coach/Manajer Bungsu Aerosport Club, Widodo Yuda Kusuma, yang memiliki wewenang penuh memutuskan siapa yang boleh terbang berdasarkan kondisi angin dan kesiapan atlet. SOP yang diterapkan meliputi pengecekan angin secara berkala, penyortiran atlet sesuai kemampuan, pengaturan alur kendaraan dan pengosongan area landing oleh Linmas, serta kesiapan SAR dan ambulans dari pemerintahan nagari. Disebutkan kecepatan angin sore yang rawan berada di kisaran 8–9 satuan nautikal, sementara kondisi aman berada di 1–2. Pada kondisi rawan, atlet junior atau yang kurang pengalaman dilarang keras untuk terbang. Sistem pemeriksaan dan pelarangan terbang ini dijalankan konsisten untuk meminimalkan risiko kecelakaan.
Peran komunitas lokal dan UMKM dalam kegiatan ini sangat kuat. Penyediaan konsumsi dikoordinasikan bersama pemerintahan nagari dengan melibatkan pedagang dan pemegang katering lokal yang menyediakan beragam porsi, mulai dari 1 porsi hingga 10 porsi atau beberapa kilogram bahan. Dukungan juga datang dari tokoh adat dan Linmas yang mengatur pengamanan. Bahkan komunitas lokal pernah menyumbang material berupa 10–20 sak semen untuk pembangunan fasilitas, serta beberapa warga bersedia meminjamkan 12 kamar rumahnya sebagai akomodasi sementara bagi peserta yang menginap.
Regenerasi menjadi fokus jangka panjang. Saat ini latihan rutin mingguan berjalan di banyak daerah dengan mayoritas atlet berasal dari pelajar SMP dan SMA. Klub Bungsu sendiri memiliki 47 anggota tercatat dengan sekitar 40 orang yang rutin berlatih, rentang usianya dari kelas 5 SD sampai SMP hingga dewasa, sementara pelajar SMA dan mahasiswa sering tidak konsisten karena kegiatan sekolah atau kerja. Rekomendasi regenerasi yang ditekankan adalah merekrut sejak usia kelas 5 SD sampai kelas 2 SMP agar masa karier atlet lebih panjang. Tantangan muncul ketika atlet memasuki perguruan tinggi di luar kota, kesibukan kuliah membuat partisipasi menurun.
Dari sisi prestasi, Sumatera Barat memiliki modal yang cukup baik. Pada kompetisi tingkat nasional terakhir di Aceh, Sumbar meraih medali perak dan perunggu pada beberapa nomor, meski Gantole belum menunjukkan hasil optimal pada 2024. Di level klub, Bungsu Aerosport Club telah melahirkan 4 juara dunia dan medali di kejuaraan internasional termasuk emas di Thailand, serta partisipasi pada 2022 di Papua yang meraih perak dan perunggu. Klub ini pun telah dikenal luas di dalam dan luar negeri dengan kedatangan atlet dan pengunjung dari Kanada, Jerman, Singapura, Cina, Jepang, hingga Australia. Beberapa anggota juara internasional tetap aktif hadir dan menjadi motivasi bagi anggota lain.
Aktivitas pembinaan di klub dikemas secara komprehensif. Latihan rutin diselenggarakan pada hari Kamis/Jumat di minggu tertentu, serta latihan intensif saat libur dari pagi hingga sore. Sesi latihan dibagi sesuai kelas yakni provinsi, nasional, dan internasional berdasarkan jenjang kompetisi yang telah dicapai atlet. Setiap sesi didahului pemeriksaan kesehatan fisik, bahkan peserta yang sudah tua pun diperbolehkan ikut selama kondisi fisik normal. Kegiatan juga dikemas secara kultural dan religius melalui pengajian dan ibadah malam, serta menyediakan akomodasi seadanya agar pengunjung betah.
Namun tantangan infrastruktur, kepemilikan lahan, dan peralatan masih menjadi kendala utama. Lokasi latihan saat ini masih berstatus sewa/kontrak lahan dengan target ke depan mengusahakan kepemilikan lahan permanen, dengan wacana pembagian lahan per 1 hektare untuk pengembangan. Kondisi akses jalan juga masih menjadi masalah, sebagian jalan tanah dan sebagian beton dengan kualitas pengerjaan yang kurang diawasi sehingga licin saat hujan. Fasilitas publik seperti WC/kamar mandi dan musala ada namun terbatas, sehingga muncul usulan pengembangan area bermain anak dan sarana pendukung lainnya. Dukungan pemerintah lokal dinilai masih kurang terlihat, sehingga upaya mencari donator swasta dan simpatisan terus dilakukan.
Kepala Dinas Potensi Dirgantara (Kodispotdirga) Lanud Sutan Sjahrir Padang, Letnan Kolonel Sus. Firdaus, S.Ag., M.M., menegaskan bahwa dukungan komunitas, SOP pengamanan, dan koordinasi logistik tetap menjadi kunci agar persiapan PORPROV berjalan lancar dan aman. Senada, Widodo Yuda Kusuma selaku manajer BAC mengungkapkan harapan ke depan adalah mengusahakan lahan permanen, mencari donator dan sponsor untuk perbaikan jalan, pembangunan fasilitas dasar, dan pembelian parasut pribadi bagi atlet, serta mengembangkan paket kegiatan wisata dirgantara agar pengunjung betah dan dampak ekonomi ke masyarakat lokal berkelanjutan, sehingga prestasi dan manfaat ekonomi tidak hanya sementara.







