Koto Rantang – Warga Nagari Koto Rantang dikejutkan dengan kemunculan tiga ekor anak harimau yang terekam kamera pengawas (CCTV) di kawasan Stasiun GAW Koto Tabang, pada pukul 02.00 WIB dini hari. Rekaman tersebut memperlihatkan ketiga satwa liar itu melintas di sekitar area stasiun yang berada tidak jauh dari permukiman dan lahan perkebunan masyarakat.
Stasiun GAW Koto Tabang sendiri merupakan bagian dari fasilitas pengamatan atmosfer milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang berlokasi di kawasan Koto Tabang, Kabupaten Agam. Lokasi ini dikenal berada di wilayah yang masih berdekatan dengan kawasan hutan, habitat alami satwa liar seperti Harimau Sumatera.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, rekaman CCTV memperlihatkan tiga anak harimau tersebut berjalan beriringan melintasi area terbuka di sekitar stasiun. Tidak terlihat adanya induk harimau dalam rekaman tersebut, namun warga diminta tetap meningkatkan kewaspadaan karena besar kemungkinan induknya berada tidak jauh dari lokasi.
Menanggapi kejadian itu, Wali Nagari Koto Rantang, Agus Parta Wijaya, mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati, terutama saat beraktivitas di kebun atau ladang yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Nagari Koto Rantang agar lebih waspada ketika pergi ke kebun, terutama pada pagi buta atau menjelang malam hari. Jika memungkinkan, jangan pergi sendiri dan selalu berkoordinasi dengan perangkat nagari apabila melihat tanda-tanda keberadaan satwa liar,” ujar Agus Parta Wijaya.
Ia juga meminta warga untuk tidak bertindak gegabah, apalagi mencoba mendekati atau menangkap satwa tersebut. Menurutnya, harimau merupakan satwa yang dilindungi dan menjadi bagian penting dari ekosistem hutan.
Pemerintah nagari berencana berkoordinasi dengan instansi terkait guna memastikan langkah penanganan yang tepat, termasuk sosialisasi kepada masyarakat mengenai langkah-langkah mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa wilayah Nagari Koto Rantang masih berada dalam kawasan penyangga habitat satwa liar. Oleh karena itu, kesadaran dan kewaspadaan bersama sangat diperlukan agar aktivitas masyarakat tetap aman tanpa mengganggu keseimbangan alam.
(Basa)






