Palupuah, 28 Oktober 2025 —
Musyawarah Antar Nagari (MAN) Khusus pada 15 Juli 2025 menegaskan bahwa seluruh proses pembentukan dan seleksi kepemimpinan BUMDesMa Ranah Palupuah Jaya harus dilaksanakan secara transparan, profesional, dan tanpa intervensi dari pihak mana pun.
Kini proses seleksi telah memasuki tahap akhir dengan hasil dua calon dinyatakan lolos administrasi, yaitu Lusi Zofriana, S.H. dan Dupendra Syamka, sementara Mahyu Danil, S.Pd. dinyatakan tidak memenuhi syarat. Namun, di tengah perjalanan ini, sorotan publik meningkat, terutama terkait pentingnya menjaga kemurnian proses dari segala bentuk cipta kondisi dan dugaan kedekatan keluarga dengan unsur-unsur pejabat yang memiliki posisi strategis.
Dalam amanah MAN 15 Juli 2025, ditegaskan bahwa panitia seleksi harus bekerja independen sesuai prinsip adat dan peraturan yang berlaku. Tak boleh ada “titipan”, tekanan, ataupun pengaruh dari pihak-pihak tertentu. Sejalan dengan aturan BUMDesMa, calon direktur dilarang memiliki hubungan keluarga langsung dengan pihak-pihak seperti:
Camat selaku Pembina BUMDesMa,
Wali Nagari sebagai Dewan Penasehat,
Pengurus dan pengelola aktif, serta
Dewan Pengawas.
Sebagaimana pepatah Minangkabau:
“Pakirim indak baturuikan, pitaruah indak bahunian.”
Artinya, amanah jangan diselewengkan, kepercayaan jangan dikhianati.
Pesan moral ini menjadi pegangan utama bagi Panitia Seleksi dan MAN Kecamatan Palupuah agar keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan integritas dan kelayakan, bukan karena faktor kedekatan keluarga atau tekanan kekuasaan.
Tokoh masyarakat Palupuah menilai, momentum ini menjadi ujian kejujuran dan wibawa MAN Palupuah untuk memastikan BUMDesMa berdiri di atas fondasi kepercayaan publik, bukan kepentingan sempit.
“Kalau amanah sudah diberikan kepada panitia, jangan lagi ada cipta kondisi dari pihak mana pun. Masyarakat Palupuah ingin BUMDesMa ini dikelola orang yang bersih, netral, dan punya kemampuan,” ujar seorang tokoh yang mengikuti rapat MAN 15 Juli lalu.
Dengan amanah yang sudah jelas itu, masyarakat berharap Panitia Seleksi tetap teguh memegang prinsip tanpa kompromi, menjadikan pepatah Minang bukan sekadar kata-kata, tetapi roh etika dalam pengambilan keputusan publik.
“Alua jo patuik, indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh.”
(By)






