OPINI – Demi Ambisi Politik: Mr. Syarifudin Prawiranegara dan Mr. Asaat Lebih Tepat Diangkat Menjadi Pahlawan Nasional

- Penulis

Kamis, 20 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI – Dalam dinamika politik modern Indonesia, perbincangan mengenai gelar Pahlawan Nasional selalu menjadi ruang tarik-menarik antara kepentingan sejarah, kepentingan moral, dan—tak dapat dipungkiri—kepentingan politik. Gelar ini bukan hanya simbol penghargaan, tetapi juga penegasan narasi bangsa tentang siapa yang dianggap berperan besar dalam perjalanan republik. Dalam konteks inilah muncul kembali perdebatan mengenai sosok Mr. Syarifudin Prawiranegara dan Mr. Asaat, dua tokoh yang kiprahnya dalam masa awal republik patut ditempatkan lebih jelas dalam ingatan nasional.

Di tengah pusaran politik yang sering kali lebih mengutamakan pencitraan, muncul pertanyaan penting: Mengapa dua figur ini belum secara tegas mendapatkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional? Lebih jauh lagi, apakah penundaan itu berkaitan dengan minimnya dukungan politik atau karena narasi sejarah mereka kalah oleh tokoh-tokoh yang lebih sering ditampilkan dalam wacana publik?

Menggali Ulang Peran Tokoh dalam Masa Krisis Republik

Dalam catatan sejarah, figur seperti Mr. Syarifudin Prawiranegara dikenal sebagai salah satu tokoh yang memegang peran penting ketika republik berada dalam situasi genting. Ketika komunikasi pusat pemerintahan terputus akibat agresi militer, ia dipercaya menjalankan mandat krusial untuk mempertahankan keberlangsungan pemerintahan republik. Peran ini bukan hanya administratif, tetapi menyangkut legitimasi negara dalam masa terancam.

Sementara itu, Mr. Asaat juga tercatat sebagai sosok yang mengisi ruang tanggung jawab besar dalam fase awal perjalanan republik. Kiprahnya dalam menjaga kesinambungan pemerintahan dan memastikan negara tetap berdiri di tengah tekanan internal maupun eksternal menggambarkan kualitas kepemimpinannya. Kedua tokoh ini tidak hanya hadir sebagai pejabat, tetapi sebagai figur yang berdiri ketika republik belum memiliki kepastian apa pun.

Namun, dalam arus narasi sejarah yang kadang tersandera prioritas politik, kontribusi mereka sering tak terangkat ke permukaan secara maksimal. Padahal, ketika berbicara tentang keberanian mengambil risiko demi berdirinya negara, nama-nama seperti mereka layak ditempatkan sejajar dengan tokoh-tokoh besar lainnya.

Ketika Gelar Pahlawan Menjadi Alat Politik

Isu mengenai Pahlawan Nasional memang tidak pernah steril dari kepentingan politik. Gelar ini sering kali melekat pada dorongan kelompok, lobi budaya, atau bahkan kebutuhan politik tertentu. Dalam beberapa kasus, figur yang secara historis memiliki kontribusi signifikan justru tertinggal hanya karena tidak memiliki pendukung politik yang kuat.

Ironisnya, justru dalam konteks ini muncul kesan bahwa ambisi politik lebih sering menentukan siapa yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional, bukan semata kontribusi historisnya. Jika narasi sejarah dibentuk lebih banyak oleh siapa yang “bersuara paling keras” ketimbang siapa yang “berjasa paling jelas”, maka bangsa ini secara perlahan mengubur jejak perjuangannya sendiri.

Melihat rekam jejak Mr. Syarifudin Prawiranegara dan Mr. Asaat, sulit untuk tidak mempertanyakan: Apakah negara sudah benar-benar memberi tempat yang layak bagi mereka dalam sejarah resmi bangsa? Ataukah kita masih terjebak dalam pola lama, di mana gelar Pahlawan Nasional baru terasa layak diberikan bila ada keuntungan politik yang mengikutinya?

Membangun Keadilan Historis Tanpa Terjebak Kepentingan

Opini ini bukan tentang menjadikan sejarah sebagai arena konflik, melainkan upaya mengembalikan proporsionalitas. Bila bangsa ini ingin menempatkan sejarah sebagai panduan moral masa depan, maka narasinya harus jujur dan bebas dari intervensi politik jangka pendek.

Pengakuan terhadap tokoh-tokoh seperti Mr. Syarifudin Prawiranegara dan Mr. Asaat bukan semata penghargaan simbolis. Itu adalah bagian dari membangun keadilan sejarah, memastikan generasi muda memahami bahwa berdirinya Indonesia tidak hanya hasil karya segelintir nama yang populer, tetapi kerja kolektif dari banyak tokoh yang mungkin tidak selalu mendapat sorotan.

Gelar Pahlawan Nasional seharusnya menjadi representasi keberanian, pengorbanan, dan dedikasi. Bila dua tokoh ini secara nyata memenuhi kriteria tersebut, maka bangsa tidak perlu menunggu adanya kepentingan politik tertentu untuk memberikan penghargaan tersebut.

Penutup: Saatnya Menempatkan Sejarah di Atas Politik

Sejarah adalah warisan bersama. Menempatkan kepentingan politik di atas fakta sejarah hanya akan menciptakan generasi yang kehilangan pijakan atas masa lalunya. Karena itu, sudah seharusnya penilaian terhadap tokoh seperti Mr. Syarifudin Prawiranegara dan Mr. Asaat dilakukan secara objektif, mendalam, dan bebas intervensi politik.

Jika bangsa ingin mengambil sikap yang benar, maka mengakui kontribusi besar mereka sebagai tokoh yang layak menyandang gelar Pahlawan Nasional bukanlah tindakan yang berlebihan. Justru itu merupakan langkah untuk memperbaiki narasi sejarah yang selama ini mungkin tidak lengkap.

(Basa)

Follow WhatsApp Channel www.terasnagarinews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Barito kini

Geger! Bayi Diduga Ditelantarkan di Depan Kedai Warga, Polisi Selidiki Orang Tua
50 Personel TNI Diterjunkan Mendukung Percepatan Pembangunan Jembatan Gantung Permanen Lubuk Kalikie
Amir Koto Pimpin Rakor Dalam Pembahasan Program Kerja Tahun 2026
Camat Matur Anak Nagari Malalak Selatan Salurkan Bantuan Sebagai Wujud Kepedulian Terhadap Kampung Halaman
Anggota DPRD Agam Tinjau Kerusakan Kapalo Banda Gadang Siniair Pasca Banjir Besar
Kunjungan Denzipur 2/PS Tindak Lanjuti Rencana Pembangunan Jembatan Gantung Permanen di Jorong Siniair
Warga Jorong Siniair Sampaikan Terima Kasih atas Pembangunan Jembatan Darurat
Serah Terima Pemakaian Jembatan Darurat di Jorong Siniair Nagari Malalak Selatan

Barito kini

Kamis, 15 Januari 2026 - 04:24 WIB

Geger! Bayi Diduga Ditelantarkan di Depan Kedai Warga, Polisi Selidiki Orang Tua

Rabu, 14 Januari 2026 - 07:18 WIB

50 Personel TNI Diterjunkan Mendukung Percepatan Pembangunan Jembatan Gantung Permanen Lubuk Kalikie

Senin, 12 Januari 2026 - 07:36 WIB

Amir Koto Pimpin Rakor Dalam Pembahasan Program Kerja Tahun 2026

Senin, 12 Januari 2026 - 02:22 WIB

Camat Matur Anak Nagari Malalak Selatan Salurkan Bantuan Sebagai Wujud Kepedulian Terhadap Kampung Halaman

Minggu, 11 Januari 2026 - 00:32 WIB

Anggota DPRD Agam Tinjau Kerusakan Kapalo Banda Gadang Siniair Pasca Banjir Besar

Iko baru barito