Kemenag Bukittinggi Perkuat Madrasah Inklusif, Pastikan Tak Ada Anak Tertinggal dalam Pendidikan
BUKITTINGGI, TerasnagariNews.cam – Komitmen menghadirkan pendidikan yang ramah, setara, dan tanpa diskriminasi terus diperkuat Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bukittinggi. Upaya itu diwujudkan melalui Pelatihan Pendidikan Inklusif bertema “Madrasah Tanpa Sekat: Ikhtiar Mewujudkan Kesetaraan Hak Belajar Anak Inklusif di Madrasah di Lingkungan Kantor Kemenag Kota Bukittinggi” yang digelar di Aula Kantor Kemenag setempat, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kemenag Kota Bukittinggi, H. Irwan, didampingi Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Aldy Heko Putra serta jajaran Pengawas Madrasah se-Kota Bukittinggi. Bertindak sebagai narasumber dalam pelatihan ini adalah Tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Imam Bonjol Padang.
Pelatihan diikuti sebanyak 34 peserta yang terdiri dari Kepala MIN Bukittinggi, Wakil Kepala Madrasah bidang kurikulum, serta Guru Pendamping Khusus (GPK) jenjang MI, MTs, dan MA di lingkungan Kemenag Kota Bukittinggi. Seluruh peserta dibekali pemahaman untuk memperkuat ekosistem inklusif di masing-masing madrasah.
Dalam arahannya, H. Irwan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada panitia pelaksana serta Tim LPPM UIN Imam Bonjol Padang atas kontribusi dalam menyukseskan program pendidikan tersebut. “Ini merupakan kontribusi yang luar biasa dalam mendukung dan menyukseskan program pendidikan. Kegiatan ini adalah salah satu ikhtiar kita dalam menghadirkan kesetaraan sebagai hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan,” ujarnya.
Menurut H. Irwan, pendidikan inklusif bukan sekadar program seremonial, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan setiap anak memperoleh hak pendidikan secara layak. “Kita memiliki komitmen untuk memberikan dan menunaikan hak anak dalam memperoleh pendidikan. Karena itu, menjadi tanggung jawab kita semua untuk memberikan ruang dan perhatian yang sama kepada anak-anak, sehingga mereka sama-sama memperoleh pendidikan yang layak. Artinya, tidak boleh ada diskriminasi terhadap anak,” tegasnya.
Ia menekankan, guru memegang peran strategis dalam menciptakan lingkungan pendidikan inklusif. Seorang guru, kata dia, tidak cukup hanya mampu menyampaikan materi pembelajaran, tetapi wajib memahami latar belakang, karakter, kebutuhan, serta perbedaan setiap peserta didik. “Seorang guru harus memiliki kompetensi dalam mentransfer ilmu dengan memahami latar belakang serta perbedaan dari anak yang dididiknya. Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda, dan perbedaan tersebut harus menjadi perhatian dalam proses pembelajaran,” jelasnya.
Lebih lanjut, H. Irwan mengaitkan pendidikan inklusif dengan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta yang menempatkan nilai religius dan kemanusiaan sebagai fondasi utama. Menurutnya, madrasah harus menjadi ruang terbuka bagi semua anak. “Madrasah mesti inklusif. Kurikulum berbasis cinta akan mengantarkan seseorang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kecerdasan spiritual, sehingga kecerdasan yang dibangun menjadi seimbang,” tuturnya.
Ia menegaskan, keberhasilan pendidikan tidak semata diukur dari capaian akademik. Lebih dari itu, keberhasilan madrasah tercermin dari kemampuannya membentuk kepribadian dan karakter. “Nilai-nilai agama dan akhlak yang menyatu dengan kecerdasan intelektual akan menjadi pondasi bagi mereka dalam berucap dan bertindak,” katanya. Sebagai contoh sederhana, ia mengingatkan pentingnya empati. “Kalau ada kata-kata atau ucapan yang tidak kita senangi, maka jangan kita ucapkan kepada orang lain. Kalau ada sikap yang tidak kita inginkan dari orang lain, maka jangan kita bersikap seperti itu kepada orang lain,” ungkapnya.
H. Irwan berharap pelatihan tersebut dapat memperkuat kapasitas pendidik dalam mewujudkan madrasah yang benar-benar memberikan ruang belajar bagi semua, termasuk anak yang membutuhkan pendampingan dan layanan khusus. “Semoga kegiatan ini berjalan dengan lancar, bermanfaat dan diberkahi, serta mencapai tujuan yang kita harapkan. Mudah-mudahan melalui kegiatan ini, kita semakin mampu menghadirkan madrasah tanpa sekat, madrasah yang memberikan kesempatan dan hak belajar yang sama bagi setiap anak,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, Aldy Heko Putra, menyebut kegiatan ini sebagai langkah konkret memperkuat ekosistem pendidikan inklusif di Kota Bukittinggi. “Dengan peningkatan kompetensi kepala madrasah, wakil kepala madrasah, guru dan GPK, In Syaa Allah madrasah semakin mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, adaptif dan melahirkan peserta didik yang berilmu, berakhlak dan berkarakter,” harapnya.







