BUKITTINGGI.Terasnagarinews.com| Pesatnya pembangunan yang digalakkan Pemerintah Kota (Pemko) Bukittinggi terus bergerak maju dalam upaya meningkatkan pelayanan masyarakat di berbagai sektor. Salah satu ikon pembangunan yang kini berdiri megah di pusat kota adalah Pasar Atas.
Berada di lokasi strategis, tepat berhadapan dengan menara ikonik Jam Gadang, Pasar Atas tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga merupakan salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.
Namun, di balik kemegahan bangunan hasil pembangunan kembali tersebut, terdapat catatan penting mengenai pelestarian identitas budaya lokal.
Pasar Atas pernah dilalap si jago merah pada 2017. Kebakaran tersebut menghanguskan bangunan pasar yang selama ini menjadi salah satu pusat perdagangan sekaligus ikon wisata Kota Bukittinggi.
Pemerintah pusat kemudian mengalokasikan anggaran ratusan miliar rupiah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk penyelamatan dan pembangunan kembali Pasar Atas.
Kini, bangunan tersebut telah kembali berdiri megah dengan sentuhan desain modern. Namun, menurut Wakil Ketua DPRD Kota Bukittinggi, terdapat sejumlah elemen simbolik dan nilai kultural khas Minangkabau yang dahulu melekat kuat pada Pasar Atas dan dinilai perlu dipulihkan kembali.
Hal tersebut disampaikan Zulhamdi Nova Candra, I.B., A.Md, Wakil Ketua DPRD Kota Bukittinggi dari Fraksi Partai NasDem, saat menerima awak media di ruang kerjanya, Jumat (28/8/2026).
Zulhamdi mengusulkan agar identitas budaya Minangkabau kembali ditonjolkan pada bangunan Pasar Atas. Salah satunya melalui pemasangan kembali atap bergonjong serta patung harimau yang dahulu menjadi bagian dari tampilan gerbang pasar.
“Saya mengusulkan kepada Pemko Bukittinggi dan dinas terkait, hendaknya bangunan Pasar Atas ini dilengkapi kembali pada bagian atasnya dengan atap bergonjong khas Rumah Gadang, serta dipasang kembali patung harimau di gerbang depan,” tutur Zulhamdi.
Menurutnya, keberadaan gonjong dan patung harimau bukan sekadar ornamen, tetapi merupakan bagian dari identitas visual dan simbol budaya yang telah lama dikenal masyarakat.
“Dahulunya bangunan Pasar Atas ini mengenakan atap gonjong yang menjadi ciri khas arsitektur Minangkabau. Di gerbang depannya juga terdapat dua patung harimau. Itu merupakan simbol kebudayaan yang sangat lekat di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai, modernisasi pembangunan tidak seharusnya menghilangkan karakter budaya daerah. Justru, kemajuan pembangunan perlu berjalan seiring dengan upaya mempertahankan identitas dan sejarah sebuah kota.
Apalagi Bukittinggi dikenal sebagai Kota Wisata sekaligus Kota Perjuangan. Menurut Zulhamdi, karakter tersebut seharusnya tercermin tidak hanya melalui objek wisata dan bangunan bersejarah, tetapi juga melalui arsitektur ruang publik yang merepresentasikan jati diri Minangkabau.
Monumen Bung Hatta Minim Penerangan
Dalam kesempatan yang sama, Zulhamdi juga menyoroti persoalan minimnya penerangan pada Monumen Proklamator RI Bung Hatta.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat monumen yang berada di kawasan strategis kota itu nyaris tidak terlihat oleh masyarakat maupun wisatawan pada malam hari.
Padahal, Bung Hatta merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus putra terbaik Minangkabau yang memiliki hubungan historis kuat dengan Kota Bukittinggi.
Karena itu, ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian terhadap aspek pencahayaan dan penataan kawasan monumen, sehingga keberadaan monumen tersebut dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata sekaligus sarana edukasi sejarah bagi masyarakat dan wisatawan.
Zulhamdi Nova Candra sendiri merupakan tokoh masyarakat yang juga menyandang gelar kehormatan adat “Datuk Nagari Labiah” Pangka Tuo Nagari Guguak Panjang dari Pasukuan Jambak Kurai Lima Jorong.
Ia menegaskan bahwa menjaga identitas budaya bukan berarti menolak modernisasi. Sebaliknya, pembangunan modern harus mampu berjalan beriringan dengan karakter sejarah dan budaya masyarakat setempat.
“Jangan sampai pembangunan yang kita lakukan membuat identitas budaya kita justru hilang. Bukittinggi memiliki sejarah dan budaya yang kuat. Itu harus tetap terlihat dan menjadi kebanggaan kita bersama,” tegasnya.
Ia berharap Pemko Bukittinggi dan dinas terkait dapat menindaklanjuti usulan tersebut melalui kajian teknis, arsitektural, serta memperhatikan aspek keamanan dan struktur bangunan.
Dengan demikian, jika nantinya dilakukan penambahan kembali elemen gonjong, patung harimau maupun penataan pencahayaan kawasan, seluruhnya dapat dilaksanakan secara tepat dan selaras dengan bangunan yang ada.
Menurutnya, Pasar Atas ke depan tidak cukup hanya tampil megah secara fisik. Bangunan tersebut juga harus mampu menghadirkan kembali roh budaya dan sejarah yang menjadi bagian dari jati diri Kota Bukittinggi.
“Kita ingin Bukittinggi maju dan modern, tetapi jangan kehilangan identitas. Gonjong, harimau, sejarah dan simbol-simbol budaya itu adalah bagian dari wajah Bukittinggi yang harus kita jaga,” pungkasnya.
Penulis : Angah Al-syroekamy
Editor : Alek Kardion






