Matur – Sudah delapan hari pascabencana hujan dan longsor besar melanda Kabupaten Agam, enam nagari di Kecamatan Matur masih sepenuhnya terisolasi. Akses jalan utama belum dapat dilewati dan pasokan listrik PLN sejak awal kejadian hingga kini mati total.
Akses vital Matur – Bukittinggi melalui Panta–Ngarai Sianok, ruas Sungai Landia – Koto Tuo, serta jalur Kelok 44 – Maninjau masih lumpuh akibat longsor berat di banyak titik.
“Kondisi di lapangan sangat parah, kendaraan sama sekali tidak bisa masuk. Warga hanya bisa menunggu bantuan dari luar, itu pun belum bisa masuk karena jalan terputus total,” ujar Camat Matur Efendi Idris .S,Sos
Logistik Krisis: BBM, Gas, dan Sembako Hampir Habis
Terputusnya akses selama hampir satu pekan berdampak serius. BBM mulai harga 20.000/liter mulai langka, gas elpiji mulai 50.000/tabung sulit ditemukan, serta stok sembako di warung-warung warga semakin menipis. Distribusi barang dari Bukittinggi tidak dapat dilakukan karena seluruh jalur terhambat longsor.
Menurut informasi dari warga dan tokoh nagari, harga kebutuhan pokok sudah mulai melonjak tajam, bahkan diperkirakan akan mencapai titik kritis dalam 3–4 hari ke depan bila tidak ada suplai darurat.
“Harga beras, minyak, dan bahan pokok lain sudah naik karena stok sangat terbatas. Warga mulai cemas, terutama untuk kebutuhan anak-anak dan lansia,” jelas Wali Nagari lawang ,Frengky .Spd dari salah satu nagari terdampak.
Permintaan Mendesak kepada Gubernur Sumbar
Pemerintah Nagari dan Kecamatan Matur mendesak Gubernur Sumatera Barat untuk memberikan perhatian khusus mengingat situasi ini sudah masuk kategori darurat kemanusiaan.
Camat Matur menyampaikan bahwa pihaknya sangat membutuhkan:
Bantuan logistik harian (beras, air bersih, makanan siap saji, obat-obatan).
Tenda pengungsian dan dapur umum.
Bantuan BBM dan elpiji melalui jalur alternatif atau armada khusus.
Percepatan pembukaan akses jalan di titik longsor terparah.
“Kami minta Pemprov segera menurunkan tim lengkap dengan posko bantuan darurat. Kalau dalam tiga hari ke depan tidak ada suplai logistik, masyarakat bisa menghadapi kondisi yang lebih berat,” tegas Camat Matur.
Warga Bertahan dengan Perbekalan Terbatas
Di beberapa nagari, warga harus menghemat makanan. Sebagian lainnya mencoba berjalan kaki menuju daerah yang masih bisa dijangkau untuk mencari bahan pokok, namun jarak yang jauh dan kondisi cuaca membuat upaya itu sangat berisiko.
“Kami mohon perhatian pemerintah provinsi. Kondisi masyarakat kami benar-benar sangat membutuhkan bantuan segera,” tutup tokoh masyarakat nagari lawang ,tigo balai.
(Ade)






